26 February 2007

Suluk Wujil

Saudaraku renungkan dan ganti nama Wujil ini
Dengan namamu biar mengena dan terasa….

SULUK WUJIL

Inilah ceritera si .....Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya, Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Sampai rahasia terdalam

Sepuluh tahun lamanya sudah
......Wujil Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata Seraya menghormat Minta maaf


“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya Menjadi bahan tertawaan orang

Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar

Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada

Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai ...... Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tinggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat

Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namun isinya berwarna kuning

Matahari terbenam, malam tiba
...... Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian,
memanaskan Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan

Sang Arif berkata lembut
“Hai...... Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut ......Wujil
Seraya dielus-elusTanda kasihsayangnya
......“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”…

“Ingatlah .......Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”

Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah menyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia

Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini:
Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata

Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat

Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana

Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?

Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini

Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?

Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan

Pedoman hidup sejatiIalah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia

Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, ......Wujil
Sia-sia semata Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggalah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia

Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpu-kan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!

Dunia ini .....Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

Karena itu, ......Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenali diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya

Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar

Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan

Diam dalam tafakur, ......Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat

.....Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata

Renungi pula, ......Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham

Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni

Kemauan itu, ......Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan

Sunan Bonang

Salam Bahagia:)
Dari Cucunya Sunan Bonang

Nur Khabib

01 January 2007

Puncak Tujuan Hamba

Makrifat kepada Allah
sebagai puncak tujuan hamba.

Marifat kepada Allah adalah
puncak keuntungan seorang hamba.

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan
untuk marifat, maka jangan menghiraukan soal
amalmu yang sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan
bagimu, melainkan Dia akan memperkenalkan diri
kepadamu.Tidakkah kau ketahui bahwa marifat itu
semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu,
sedang amal perbuatanmu hadiah daripadamu,
maka dimanakah letak perbandingannya antara hadiah
dengan pemberian karunia Allah kepadamu?

Fitrah manusia mengenal Allah, baik dalam pengertian
awam(umum) maupun dalam arti khosh (khusus).
Yang dimaksud mengenal Allah dalam pengertian umum
ialah pengenalan iman kepada Allah, sebagaimana yang
dikaji dalam aqoidul iman yang sangat mendasar. Itulah
ilmu tauhid yang disebut sebagai inti agama. Atau pokok
dari segala yang pokok. Dengan kata lain, tauhid merupakan
keyakinan yang paling dasar untuk diajarkan kepada setiap
manusia sebelum lebih jauh menjalar pada aspek-aspek lain
dalam beragama.

Adapun yang dimaksud pengenalan secara khusus ialah
mengenal Allah dalam arti Makrifatulloh (melihat Allah)
dengan matahati. Maka ia melihat Tak ada perbuatan yang
bertebaran di alam ini , kecuali perbuatan Allah; Tak ada
nama yang melekat pada suatu apapun, melainkan
nama Allah; Tak ada sifat yang mewarnai diri, kecuali
sifat Allah; Tak ada Dzat yang meliputi makhluk, melainkan
Dzat Allah. Dengan tahapan Ilman Yaqin, Ainul Yaqin,
Haqqul Yaqin dan Isbatul Yaqin[1][1].

Anugrah Allah kepada hamba yang dikasihiNya merupakan
lensa marifat yang hakiki kepada-Nya. Sebab bagi orang yang
tak dapat anugerah Allah, ia mengenal Tuhan mereka menurut
versi angan khayal mereka. Seperti Firaun yang menuhankan
dirinya, Namrud menuhankan patung batu (arca) dan di zaman
kini banyak orang yang menuhankan sesuatu selain Allah,
seperti menuhankan computer, kekuatan alam dan teknologi.

Mereka itu sebagai contoh orang yang tidak mendapat
anugerah marifat dari Allah.

Jika Allah telah menunjukkan kepada hamba-Nya dengan
sebagian sebab-sebab sehingga ia menjadi orang yang marifat,
kemudian kepadanya dibukakan pintu kemarifatan yang tetap
(sakinah) sehingga ia mendapat ketenangan yang luar biasa.
Dan ini merupakan nikmat yang paling besar.

Hal ini pernah dialami oleh Nabi Ibrahim as dalam mengenal
Tuhannya: Dan demikian Kami perlihatkan kepada Ibrahim
tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan
di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu
termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi
gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: Inilah
Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia
melihat bulan terbit dia berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi setelah
bulan itu terbenam dia berkata: Sesungguhnya jika Tuhanku
tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah akau termasuk
orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat
matahari terbit, dia berkata: Inilah Tuhanku, ini yang lebih
besar, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:
Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang
kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku
kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan
cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan[2][2].

Ibrahim as. dapat anugerah marifah kepadaNya dengan
melalui perjalanan yang tentunya melelahkan, tetapi hal itu
telah diganti dengan rasa nikmat yang besar serta ketenangan
yang sangat luar biasa.

Kemudian yang terjadi pada perjalanan Nabi Musa as.
dalam mengenal Tuhannya:
Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia
melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya:
Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api,
mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya
kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.
Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil:
Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka
tanggalkanlah kedua terompahmu (hawa nafsu & pikiran liar)
sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.
Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini
adalah Allah , tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku[3][3].

Dan telah Kami janjikan kepada Musa sesudah berlalu waktu
tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu
dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang
telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata
Musa kepada saudaranya yaitu Harun: Gantikanlah aku dalam
(meminpin ) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu
mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.
Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada
waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman
kepadanya, berkatalah Musa: Ya Tuhanku, tampakkanlah
(diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.
(Berdoalah seperti doanya Musa ini)

Tuhan berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku
tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
gunung itu jadi hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan.
(keadaan Fana fillah).
Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:
Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan
aku orang yang pertama-tama beriman[4][4].
(Bukit & Gunung yang ada pada Diri manusia)
Liku liku perjalanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as
dalam mencari Tuhannya yang sebenarnya tampak penuh
dengan tantangan . Tetapi semua peristiwa yang dialaminya
bermuara pada alur bimbingan-Nya, mereka tidak bisa
mengelak dari alur itu. Maka itulah yang disebut Anugerah
Allah. Sehingga mereka berdua menemukan Ilahul Haq alias
Tuhan yang sesungguhnya, yaitu Allah.

Marifat adalah anugerah Allah yang didasari kasih Tuhan
kepada hamba-Nya. Adapun amal ibadah sebagai persembahan
hamba kepada Tuhannya. Dimisalkan; anugerah itu seperti
martabat seorang budak yang diangkat oleh raja menjadi
perdana menteri. Adapun amal ibadah seumpama upeti rakyat
kepada rajanya. Maka betapa sangat jauh perbedaan antara
keduanya.

Ketahuilah wahai para salikin! Sesungguhnya maksud dan
tujuan kebanyakan manusia memperbanyak amal kebaikan
itu adalah agar mereka dapat mendekatkan (Taqarrub)
dirinya kepada Allah dengan amal itu. Tetapi perlu disadari
bahwa itu tidak akan berubah maksudnya karena banyak atau
sedikitnya amal seorang hamba.

Dalam hal ini dapat dimisalkan seperti orang yang sedang
menderita sakit, disebabkan penyakit yang dideritanya maka
menjadi berkuranglah ibadahnya kepada Allah. Boleh jadi
penyakit yang dideritanya itu sebagai sebab dan isyarat
terbukanya pintu kemarifatan kepada Allah.

Oleh sebab itu jangan mempunyai perasaan banyaknya
amal ibadah yang tertinggal disebabkan sakit. Dengan sakit
yang dideritanya itu bisa merasa dekat dengan Allah.
Perasaan lapang dada, luas hatinya dan telah meninggalkan
berbagai kenikmatan dunia seraya diiringi oleh rasa cinta
negeri akhirat. Juga telah siap tuk meninggalkan dunia
nan fana sebelum kematian itu datang. Ini juga sebagai
pertanda orang yang telah mendapatkan Nur Ilahi atau
anugerah Allah. Kesadarannya bahwa Allah bisa berbuat
apa saja menurut kehendaknya, sebagai tanda kearifannya .

Salam Bahagia:)
Nur Khabib

09 December 2006

Melalui Pintu-Nya

Rasulullah mengatakan,

Syariat adalah ucapanku,

thariqat adalah perbuatanku, dan

haqiqat adalah keadaanku.


Seseorang yang belum mampu sampai kepada haqiqat dapat
dikatakan sebagai orang-orang yang masih dalam keadaan lalai
(QS 16 : 108). Yaitu orang-orang yang masih tertutup hati,
pendengaran dan pandangan mereka. Meskipun segala sesuatu
atau segala informasi telah sampai kepada mereka; didengar,
dilihat dan dirasakan atau dibenarkan oleh hati mereka,
tetapi belum cukup untuk menghantarkan mereka untuk
memahami haqiqatnya, dengan demikian keadaan merekapun
belum sampai sebagaimana yang dikatakan Rasulullah,

haqiqat adalah keadaanku. Seseorang yang menenggelamkan
dirinya dalam upaya ketaatan dan berzikir kepada Allah atas
keimanannya kepada Allah, tidak akan sampai pada derajat ridho
dan diridhoi Allah selama dihatinya masih menyimpan
kesombongan sekecil apapun. Iblis adalah contoh paling jelas
dalam hal ini.

Para Nabi, Imam, dan Wali, adalah mereka yang telah
mencapai keadaan haqiqat. Mereka telah mengenal Allah
lewat penyaksian hati (kasyf ). Dan mereka tahu betul jalan
untuk dapat sampai kepada Allah, dan juga mengerti betul
penghalang serta tipu daya setan yang dapat menggagalkan
perjalanan untuk sampai kepada Allah. Itulah mengapa
mereka mengemban tugas sebagai pemberi petunjuk atau
pembimbing manusia kepada jalan keselamatan.

Dan manusia dalam keadaannya yang lalai, meraba dalam
kegelapan, dan rentan terhadap tipu daya setan, pasti
memerlukan pembimbing untuk menghantarkan mereka
menuju haqiqat. Tanpa seorang pembimbing, manusia
terperdaya oleh setan yang mengepungnya dari segala penjuru.

Karena memang pekerjaan setan adalah menyesatkan umat
manusia. Dan sudah menjadi kehendak Allah bahwa
manusia harus berupaya mencari jalan (wasilah) agar dapat
dekat kepada Allah.

Nabi mengatakan, Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah
pintunya. Nabi Muhammad saw. adalah manusia sempurna
yang telah mencapai keadaan haqiqat. Beliau mengibaratkan
dirinya sebagai kota ilmu dan bagi umat manusia yang ingin
menuju dan masuk ke dalam kota ilmu tersebut dan ini
berarti ingin sampai kepada keadaan haqiqat dan membebaskan
diri dari kelalaiannya- tidak bisa tidak, harus masuk melalui
pintu masuk kota tersebut, dan dialah Ali bin Abi Thalib.

Sepeninggal Nabi, yang mewariskan Kitab yang dibawanya,
ucapan dan sunahnya, yang menghantarkan kaum muslimin
kepada keselamatan dan ridho Allah, umat manusia harus
mencari jalan selapis demi selapis, rangkaian pintu demi pintu
yang terhubung ke pintu masuk kota ilmu tersebut. Pintu masuk
tersebut adalah perwujudan nyata perintah Ilahi dalam sosok
seseorang yang telah sampai kepada keadaan haqiqat pula,
karena dialah sang pemberi petunjuk atau pembimbing
sebagaimana yang diisyaratkan di dalam al-Quran. Dan
inilah hakikat dari kalam Ilahi, Hai orang-orang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah ) yang
mendekatkan diri kepadaNya


Salam Bahagia:)
Nur Khabib

06 December 2006

Pintu Mahabbatulloh


Mahabbatullah sebanding dengan seberapa jauh kita
mengenal Allah. Imam Ghazali berpendapat bahwa
terdapat 2 jenis orang yang jatuh cinta kepada Allah
karena sudah mengenal-Nya. Kecintaan mereka kepada
Allah sangat kokoh, tidak tergoyahkan dan tidak dapat
dibandingkan. Orang-orang yang termasuk golongan
Al-Aqwiyah ini, adalah para Nabi dan Rasul utusan
Allah. Yang kedua, adalah Al- Dhua’fa. Orang-orang
lemah yang baru jatuh cinta kepada Allah setelah
berusaha untuk belajar mencintai-Nya.
 
Jika mahabbatullah sebuah rumah, ada pintu untuk
memasukinya, yaitu Rasulullah saw. Karena beliau
adalah orang yang paling mencinta Allah mengenal dan
mengetahui tentang Allah. “A’rafankum billah ana” di
antara kalian akulah orang yang paling tahu tentang
Allah,” begitu kata Rasulullah saw.
 
Mahabbatulah tidak mungkin diraih jika kita tidak
mengetahui, dan tidak mengenal Allah. Untuk
mengenal-Nya Allah memberikan petunjuk-Nya:
“Katakanlah! Hai Muhammad, jika kalian mencintai Allah
maka ikutlah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian
dan mengampuni dosa-dosa kalian.” ( QS.33:21)
 
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw. suri
teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang
mengharapkan rahmat Allah.” ( QS.33:21 )
 
Mencintai Rasulullah saw. melampaui pengertian biasa.
Mencintai beliau pada hakikatnya mencintai risalah
yang dibawanya. Meneladani amal-amal yang sangat
dicintainya. Melaksanakan shalat malam dan menyayangi
fakir miskin adalah contoh amal yang sangat dicintai
Rasulullah, banyak hadits yang menerangkan bahwa
kedua amal saleh itu merupakan jalan tercepat bagi
seorang hamba untuk menemui Tuhannya. Barangsiapa
menghendaki perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah ia
beramal salih dan jangan menyekutukan-Nya dengan
sesuatu pun dalam beribadah kepada-Nya. (QS.18:11)

Salam Bahagia:)

Nur Khabib

29 November 2006

Mahabbatulloh

Tangga Menuju Cinta Alloh

1
Membaca Al-Qur’an dengan merenungkan dan memahami
kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya, sebagaimana
renungan seorang hamba yang hafal dan mampu menjelaskan
Al-Qur’an, agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak
Allah swt.

2
Taqorrub kepada Alloh swt. melalui ibadah-ibadah sunnah
setelah melakukan ibadah-ibadah fardhu itu, sesungguhnya
akan sampai pada derajat dicintai setelah memperoleh derajat
mencintai.

3
Melanggengkan Dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku,
melalui lisan, kalbu, amal dan prilaku. Maka pahala cintanya
menurut kadar derajatnya dalam dzikir tersebut.

4
Mahabbah kepada Alloh harus diprioritaskan dibandingkan
mahabbah terhadap diri Anda, ketika Anda diliputi hawa nafsu,
dan berupaya menuju mahabbah-Nya, walaupun jalan terjal
menghadang.

5
Penglihatan Qolbu itu terarah pada asma-asma dan sifat-
sifatNya, musyahadah dan ma’rifat kepada asma dan sifat-Nya,
serta berkelana di taman ma’rifat itu sendiri. barangsiapa
ma’rifat kepada asma-asma, sifat-sifat dan af’al-af’al-Nya,
tidak mustahil Alloh akan mencintainya.

6
Musyahadah terhadap kebajikan dan ihsan-Nya, keluhuran
dan nikmat-nikmat-Nya, baik nikmat batin maupun lahir, Maka,
sesungguhnya musyahadah itu mendorong untuk mencintai-Nya.

7
Adalah sangat menakjubkan : leburnya Qolbu sepenuhnya
senantiasa berada di sisi Alloh swt. Ungkapan tersebut tidak
sebagaimana arti tekstualnya, melainkan hanyalah penjelasan
tentang nama-nama dan isyarat-isyarat semata.

8
Khalwat bersama Alloh ketika Nuzul Ilahi, sebagai upaya munajat
kepada-Nya dan membaca kalam-Nya, disamping wukuf dengan
Qolbu dan beradab denagan adab ubudiyah, di hadapan
kekuasaan-Nya. kemudian semua itu diakhiri dengan istighfar
dan tobat.

9
Mengiikuti Majelis Muhibbin yang shiddiqin dan memetik
kebajikan buah kalam mereka, hal itu seperti memetik buah
yang sangat bagus. Dan anda janagan banyak bicara kecuali
jika Anda ingin memperjelas kebaikan kalam, serta Anda tahu
bahwa di dalamnya ada tambahan bekal bagi pelaku Anda
dan bermanfaat bagi orang lain.

10.
(Mahabbah kepada Alloh) harus menjauhi segala sebab
yang menghalangi Qolbu dan Alloh swt.


Salam Bahagia:)

08 November 2006

Dialog Makrifatulloh

Dipandu oleh Ustadz M. Muhammad Rusli Malik

Sebelum membahas Ma’rifatullah, akan dibahas dulu
hubungan antara ma’rifatullah dan ma’rifatunnas. Dalam
pelajaran kita mengenai ma’rifatunnas, telah diketahui
bahwa inti dari manusia itu adalah akalnya. Yang jadi agen
pengganggu adalah hawa nafsunya, namun kita juga
memerlukan hawa, sehingga hawa ini tidak bisa dihilangkan.
Dan akal adalah satu-satunya instrumen yang bisa membawa
kita kepada Allah, mendekati Allah.

Yang dimaksud dengan mendekati Allah disini bukanlah dalam
pengertian fisik. Lalu bagaimana kita bisa menjadi dekat atau
menjadi jauh dari Allah? Ternyata dekat jauhnya kita dari Allah
tergantung kepada akal kita.

4. Cahaya Allah
3. CiptaanNya, yang memancar dari diriNya
2. Musyahadah, Akal tidak bisa lagi digunakan
1. Mujahadah, Akal digunakan

Allah adalah awal dan asal dari segala sesuatu di alam ini.
Allah menciptakan alam dan seisinya, serta menetapkan
hukum-hukum yang berlaku pada ciptaannya tersebut.
Dan sebagai Pencipta, tentu saja hukum-hukum tersebut
tidak berlaku bagi Allah. Misalnya, Allah menciptakan bumi,
dan menetapkan hukum gravitasi bagi bumi. Maka tentu
saja hukum gravitasi tersebut tidak berlaku bagiNya.

Empat perjalanan manusia
Ada empat perjalanan manusia, disebut Al-Asfar Al arbaah.
Al-asfar berasal dari kata safar, musafir, berjalan.
Al–arba’a berarti empat.

1. perjalanan dari manusia Ke Tuhan (Mujahadah)
2. perjalanan dari Tuhan dalamTuhan (Musyahadah)
3. perjalanan dari Tuhan ke manusia
4. perjalanan dari manusia ke manusia

Mujahadah
Mujahadah adalah perjalanan pertama manusia.
Mujahadah berasal dari kata jahada, jahidu, jihad,
artinya berjuang, memaksakan diri. Mujahadah adalah
perjalanan yang penuh perjuangan untuk mengenal Allah,
menyadari kehadiran Allah. Dalam usaha kita untuk
‘naik keatas’(tidak secara fisik lho ya), ada hawa yang akan
selalu menarik kita ‘kebawah’, sehingga Alqur’an menyatakan
“kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-
rendahnya” (QS. 95 : 5). Bila berhasil, kita akan sampai
ke ‘atas’, sampai pada musyahadah.

Musyahadah
Kalau kita sampai ‘keatas’, itu dinamakan Musyahadah,
berasal dari kata syahadah, syahid, menyaksikan. Inilah
perjalanan dimana seseorang sudah menyatu dengan Allah,
perjalanan dari Tuhan dalam Tuhan. Seperti Al-Hallajj,
sehingga ia berkata, “Annal Haq” (akulah kebenaran).
Namun walaupun seseorang itu telah menyatu dengan Allah,
dia harus menggunakan bahasa manusia ketika berkomunikasi
dengan manusia. Seperti bila kita sudah memahami ilmu
matematika yang mendalam, kita harus menggunakan
bahasa yang sederhana ketika mengajarkan berhitung
kepada anak kecil. Seperti juga Nabi, dia berbicara dengan
bahasa kaumnya, dia tidak berbicara berdasarkan
keindahan rasa yang dia alami bersama Tuhan.

Sari :
Apakah yang dimaksud disini, Allah berarti tidak terjun
langsung dalam proses mendekati manusia? Sehingga Ia
misalnya, kemudian mengirim jibril, mengutus
Nabi Muhammad?

Ust. Rusli :
Sebelumnya harus difahami dulu bahwa yang kita maksud
disini bukanlah dekat dalam pengertian ruang dan waktu.
Jangan membayangkan Allah itu duduk di suatu tempat
tertinggi dan kemudian kita bergerak mendekatiNya.
Bukan begitu. Tetapi mendekat disini bermakna dekat
dalam pikiran. Tuhan itu ada dimana-mana, tetapi bila
kita tidak menyadari kehadiranNya, Dia akan terasa jauh.
Sama seperti bila dua orang duduk berdekatan, namun
tidak saling mengenal, tidak saling menyapa,
maka akan terasa jauh.

Perjalanan dari Tuhan ke manusia
Setelah manusia mencapai tahap musyahadah, ia harus
mampu ‘turun’ lagi, jangan terjebak, berhenti di musyahadah,
hingga mengalami suatu egoisme spiritual, merasakan
kenikmatan bersama Tuhan untuk dirinya sendiri. Padahal
kenikmatan tertinggi sebenarnya adalah ketika apa yang
dicapainya di perjalanan musyahadah-nya itu, bisa dibawa ‘turun’,
dibagi dengan manusia lain. Sama seperti seseorang yang
merasakan nikmatnya suatu makanan, kenikmatannya
akan terasa lebih tinggi lagi, bila ia bisa membagi makanannya
tersebut dengan orang lain. Orang seperti Al-Hallaj, tidak
membagi apa yang diperolehnya di musayahadah-nya
dengan bahasa manusia, sehingga kemudian sulit untuk
diterima manusia lain, terkesan tidak masuk akal. Seperti
juga kisah Syeh Siti Jenar, yang mengatakan, “akulah Allah”,
sehingga ia dihukum.

Perjalanan dari manusia ke manusia
Inilah perjalanan keempat, perjalanan manusia untuk
menegakkan keadilan, yang merupakan tugas kekhalifahan,
tugas Para nabi, para alim ulama dan tugas seluruh manusia,
sebagaimana pada ayat Alqur’an yang sering disitir oleh
para khotib sholat Jumat, QS. An-Nahl (16) ayat 90 :
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat
kebaikan dan menolong keluarga yang dekat dam melarang
dari mengerjakan yang keji dan yang munkar dan kedhaliman.
Ia menasehati kamu, supaya kamu ingat.”

Doni :
Perjalanan yang empat ini, bisa terpisah-pisah
atau harus berurutan?

Ust. Rusli :
Ada yang langsung masuk ke perjalanan ke empat, misalnya
teman-teman kita di LSM yang memperjuangkan keadilan.
Namun resikonya, apa yang dilakukan menjadi tidak ada nilai
ilahiahnya dan bisa jadi bernilai pamrih. Ikhlas, tanpa pamrih,
hanya akan dapat dicapai bila kita telah melalui perjalanan
sebelumnya. Mengapa? Karena orang-orang yang telah
mengalami nikmatnya bermusyahadah dengan tuhan akan
tabah dalam menghadapi setiap tantangan dan kesulitan
yang ada ketika berhubungan dengan manusia. Kesulitan itu
tak berarti bila dibandingkan dengan kenikmatan yang
didapatkan bersama Tuhan. Ia akan melakukan semua
perintah Tuhan dengan kecintaan. Seperti para nabi yang
dihujat, diusir oleh kaumnya.

Rizal :
Apa kriteria bahwa seseorang itu sudah mengenal Tuhan?
Jangan sampai terjadi, seseorang merasa sudah mengenal
Tuhan, padahal ternyata ia salah. Perasaan yang bagaimana
yang muncul ketika seseorang benar-benar merasakan
kehadiran Tuhan? Bagaimana dengan seseorang yang
tidak punya pengetahuan banyak tentang Tuhan, tetapi ia
dapat merasakan Tuhan? Dan bagaimana menentukan
dimana batasan akal itu dapat atau tidak dapat lagi digunakan?

Ust. Rusli :
Akal kita gunakan untuk dapat mengetahui, kemudian
mengenal Tuhan. Tanpa pengetahuan tentang Tuhan,
kita bisa tertipu oleh perasaan-perasaan kita, pikiran-pikiran
kita. Dikatakan bahwa perjalanan menuju Tuhan itu memang
banyak perompak-perompak yang dapat membuat kita
salah jalan. Seperti Lia Aminuddin yang kemudian mengangkat
dirinya menjadi orang suci (nabi?). dan rasa mengenal Tuhan
itu memang tidak bisa digambarkan, tidak bisa diceritakan,
hanya akan dimengerti oleh mereka yang merasakannya.
Sebagaimana kita tidak dapat menerangkan dengan tepat
bagaimana rasanya teh botol ini. Kalau seseorang ingin tahu,
suruhlah ia meminum teh botol tersebut, daripada mencoba
untuk menceritakannya. Demikianlah pula dengan spiritualitas itu,
tidak bisa digambarkan. Kalaupun dicoba untuk menggambarkan,
akan menggunakan bahasa manusia, yang sarat dengan
perumpamaan.

Intan :
Kalau begitu, bisa jadi apa yang dilakukan oleh Lia Aminuddin itu
bukan karena dia ingin mencari harta atau pengikut atau hal-hal
keduniawian lainnya, melainkan karena memang dia
merasa benar, dia meyakini apa yang dia pikirkan dan rasakan,
dan kemudian menyampaikan kepada orang lain, padahal
dia tertipu oleh perasaannya sendiri.

Ust. Rusli :
Bisa jadi begitu. Makanya kita harus menggunakan akal kita
untuk mengenal Allah. Coba lihat QS 62:2 yang menyebutkan
tugas rasulullah, yaitu mengajarkan kepada kaumnya
ayat-ayatNya (bukan AlQur’an maksudnya, tapi tanda-tanda
kebesaran Allah), lalu membersihkan diri mereka,
baru kemudian mengajarkan kitab suci (AlQur’an), dan terakhir,
mengajarkan hikmah. Puncak dari perjalanan manusia
adalah memperoleh hikmah.

Rizal :
Kalau seseorang sudah melaksanakan perintah agama,
misalnya seperti melaksanakan sholat, berpuasa, membayar
zakat, Haji dll, sebagai salah satu cara untuk mngenal Tuhan,
apakah ia masih perlu mengenal Tuhan secara khusus?

Ust. Rusli :
Dalam AlQur’an tidak disebutkan bahwa pelaksanaan ibadah
yg tadi disebutkan adalah sarana untuk mengenal dirinya.
Tuhan mengenalkan diriNya melalui nama-namaNya.
Allah mengimplementasikan kehendakNya melalui alam
dan kitab (Alqur’an). Karena alam dan alkitab sama-sama
bersumber dari diriNya, maka keduanya tidak mungkin
bertentangan, terjadi cek dan ricek antara keduanya.
Maka ini merupakan salah satu cara untuk menguji
kebenaran kitab suci, atau juga untuk menguji kebenaran
teori ilmu pengetahuan. Nah, sekarang, kita mengenal Allah,
melalui tafakur (berpikir) dan tazakkur (berzikir).
Tafakur tentang alam, zikir melalui kitab, melalui asma Allah.
Jadi pada hakekatnya, sebenarnya setelah kita
mengenal Tuhan, barulah kita sholat
. Sholat adalah
kendaraan bagi kita untuk mi’raj kepada Allah. Ingatlah,
pada periode Mekkah (13 tahun) tidak ada perintah-perintah
mengenai fiqh, yang ada adalah mengenai iman, pengenalan
kepada Tuhan. Kita sekarang terbalik. Kita kenal pada fiqh dulu,
baru kemudian berusaha mengenal Allah.

Intan :
Well, jadi selama ini saya tidak mengenal Tuhan
yang saya sembah

Ust. Rusli :
Benar, kata orang arif, selama anda belum mengenal Tuhan
dengan benar, jangan-jangan yang Anda sembah adalah
Tuhan yang anda ciptakan dengan pikiran Anda sendiri
.
Seperti bila kita membayangkan Tuhan ada didepan kita
ketika sholat. Apa benar Tuhan ada didepan kita? Padahal
Dia tak terikat dengan ruang. Dia ada dimana-mana. Kita
diliputi oleh Allah, Allah ada didalam diri kita, kita tak dapat
melepaskan diri dariNya.

Doni :
Mungkin bisa kita umpamakan seperti ikan dalam air.
Dalam tubuh ikan ada air, dan ikan ada di dalam air, dan
ikan tak bisa lepas dari air.

Ust. Rusli :
Perumpamaan yang bagus sekali.

Sari :
Ust. Kadang saya sholat di dalam mobil, ketika jalan macet,
apa itu tidak apa-apa? karena saya khawatir kehabisan
waktu sholat, dan daripada tidak berbuat apa-apa di dalam
mobil. Ternyata setelah saya sholat, jalanan menjadi lancar.

Ust. Rusli :
Tidak apa-apa. Itu adalah ritual yang harus kita lakukan.
Walaupun bagi mereka yang sudah mencapai musyahadah,
itu adalah gerakan-gerakan ritual yang harus mereka
lakukan ‘hanya’ karena mereka harus berbicara dengan
manusia. Padahal pada hakekatnya, perasaan mereka kepada
Tuhan sama, baik didalam ritual sholat ataupun tidak.
Mereka ‘sholat’ setiap saat. Tetapi kita harus berhati-hati
juga dalam hal menghubung-hubungkan suatu ritual yang
dilakukan dengan yang kemudian terjadi. Misalnya :
jalanan menjadi lancar karena saya tadi sholat.

Jayanti :
Kalau misalnya saya punya keinginan, kemudian saya berdoa,
dan kemudian keinginan saya itu tercapai, dan saya berpikir,
“ternyata Tuhan itu dekat, Dia mendengarkan saya”,
apakah itu juga termasuk menghubung-hubungkan
seperti yang Ustadz maksud?

Ust. Rusli :
Mengapa hanya menyadari kehadiran Tuhan ketika doa
kita terkabul? Mengapa kita menunggu hal yang demikian
untuk dapat membuat kesimpulan bahwa Tuhan itu dekat?
Apakah itu berarti Tuhan itu jauh, sebelumnya? Nah, maksud
saya, sebenarnya Tuhan itu pada dasarnya dekat, baik doa
kita dikabulkan ataupun tidak. Bukankah Dia telah
menyediakan semunya untuk kita? Oksigen yang kita hirup
setiap saat, misalnya. Apakah para nabi yang dihujat, dilempar
batu, diusir oleh kaumnya itu kemudian bisa kita artikan bahwa
Tuhan jauh dari mereka? Tuhan tidak menolong mereka?
Tidak mengabulkan doa mereka? Kesimpulannya, Tuhan itu
dekat atau tidak, bukan karena doa kita dikabulkan atau tidak.

Jayanti :
Bagaimana dengan orang-orang yang kita anggap sangat dekat
dengan Tuhan karena ibadahnya? Bolehkah kita minta
didoakan olehnya?

Ust. Rusli :
Boleh saja minta didoakan kepada orang saleh. Tetapi hati-hati juga,
jangan sampai kemudian terjadi komersialisasi kemampuan berdoa.

Jayanti :
Atau misalnya, bagaimana dengan kita yang suka menitipkan
doa pada orang yang pergi haji, karena disana banyak tempat
yang mustajab untuk berdoa?

Ust. Rusli :
Kalau semua doa kita ketika naik haji itu dikabulkan,
seharusnya umat islam menjadi umat yang paling berhasil
di seluruh dunia. Nyatanya tidak. Pernah dengar cerita tentang
seorang pemuda yang ingin punya anak? Dia lalu minta nasehat
pada seorang kyai. Kyai menyarankan dia untuk sholat malam
dan berdoa, dia laksanakan selama bertahun-tahun hal demikian,
tapi belum punya anak juga. Lalu sang kyai menyarankan dia
untuk naik haji, karena disana banyak tempat yang mustajab
untuk berdoa, dia laksanakan, dan belum juga punya anak.
Pak kyai menyarankan dia untuk naik haji lagi, karena doa
memang harus diulang. Maka dia naik haji tiga kali berturut-turut
dalam tiga tahun, tapi belum juga punya anak. Akhirnya kyai
bertanya apakah pemuda itu sudah menikah atau belum, dan
ia menjawab belum. Nah, bagaimana mau punya anak kalau
belum menikah? Ini hanyalah contoh bahwa doa itu tak berarti
bila tidak disertai dengan ikhtiar, terutama doa yang berkaitan
dengan hal-hal materiil.

Intan :
Bagaimana fungsi doa sebenarnya? Bukankah ada juga orang
yang berhasil mencapai keinginannya dengan usaha saja,
walao tanpa berdoa?

Ust. Rusli:
Ini akan kita bahas dalam kajian kita selanjutnya.
Akan ada sesi khusus dalam ma’rifatullah tentang doa.
Tetapi baiklah, mari kita bahas sebentar. Doa itu sangat penting.
Bagaimana peran atau fungsinya, itu tergantung kepada apa yang
kita inginkan. Bila yang kita inginkan adalah kedekatan dengan
Tuhan, bermusyahadah, maka doa menjadi tulang punggung,
dan usaha menjadi kulitnya saja. Tetapi bila yang kita inginkan
adalah hal-hal materiil, seperti kesuksesan dalam belajar, karir,
maka usaha menjadi tulang punggung terkabulnya keinginan itu,
dan doa menjadi kulitnya.

Rizal :
Doa bisa memberikan efek psikologis yang positif.

Ust. Rusli :
Benar, doa bisa memberi motivasi. Seperti yang saya tulis
di buku ‘Puasa’ saya, ada beberapa fungsi doa. Yang pertama,
doa itu berfungsi sebagai mision statement. Misalnya kita berdoa,
“ya Allah, izinkanlah saya memiliki mobil”, maka jelas, keinginan
kita adalah memiliki mobil. Yang kedua, doa memberi motivasi.
Segala sesuatu yang disampaikan kepada pihak lain, itu akan
menambah motivasi. Yang ketiga, doa akan menjaga
konsistensi misi, doa yang disampaikan terus menerus akan
membuat keinginan menjadi ketetapan. Yang keempat,
doa menjadi backup. Maksudnya, bila kita berhasil, kita tidak
menjadi sombong (semua ini karena Allah), dan kita tidak
menjadi depresi bila gagal (ada yang lebih baik menurut
Allah buat saya). Dan saya yakin, doa tidak akan merubah
sesuatu secara ‘simsalabim’. Berapa banyak orang yang
berdoa untuk keselamatan kaum muslimin di palestina
dan lain-lain, tapi tidak terjadi apa-apa. Bukankah Allah
sudah mengatakan, bahwa Allah tidak akan mengubah
nasib suatu kaum bila kaum tersebut tidak mengubah
dirinya sendiri.

Doni :
Pernah dengar perumpamaan dari Aa Gym, usaha
itu ibarat menanam benih, dan doa ibarat memberi pupuk.
Tanaman dapat tumbuh tanpa pupuk, tapi tentu tidak maksimal.

Ust. Rusli :
Benar, bisa diumpamakan demikian.

Intan :
Bagaimana dengan sikap menyalahkan Tuhan bila apa yang
kita inginkan, yang kita usahakan tidak tercapai?


Ust. Rusli :
Itu tergantung pada cara pandang seseorang terhadap Tuhan.
Segala sesuatu kebaikan yang kita dapatkan di dunia ini berasal
dari Tuhan, karena yang kita gunakan untuk mencapainya
adalah milik Tuhan, misalnya, otak yang kita pakai ini. Tapi kalau
ada kejelekan, itu karena kita sendiri, karena kita yang kurang
tepat dalam memanfaatkan potensi yang sudah diberikan.

Semoga bermanfaat Amiin.

Kisah Pencarian


Hamzah Fansuri


Sidang `asyiq mencari Lawan
ke Bait al-Qudus pergi berjalan
kerjanya da'im membuangkan kawan
itulah si dia anak bangsawan

Ia sampai terlalu `asyiq
da'im, ia minum pada cawan Kholiq
mabuk dan gila ke Hadhirat Raziq
itulah thalib dakwahnya shodiq

Minuman itu terlalu masak habis
dapat diminum pada fardh yang khamis
jika hendak kau minum sekalian habis
wujud wahmi jangan kau labis

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
mencari Tuhan di Bait al-Kakbah
dari Barus ke Qudus terlalu payah
akhirnya dapat di dalam rumah .


Segala puji bagi Allah... perjalanan yang ditempuh
Syekh Hamzah Fansuri untuk mencari Tuhan berakhir
dengan happy ending.

Mengembara bersusah payah mencari Tuhan kemana-
mana dari Barus sampai ke Mekkah akhirnya malah
ditemukan di dalam rumah, Di dalam dirinya sendiri terdapat
'Rumah Tuhan'. Baitulloh berada di qalbu orang yang mukmin
begitu dalam hadits.

Dalam Hadits Qudsi Allah berkata, " Tidak akan cukup
untuk-Ku bumi dan langit-Ku, tetapi yang cukup bagi-Ku
hanyalah hati hamba-Ku yang mukmin."
Jadi ternyata...untuk mencari Alloh, yaitu mencari SUMBER
Kebenaran dan kebahagiaan hidup yg hakiki tidak perlu
mencari jauh-jauh keluar diri.
Semuanya sudah tersedia di dalam diri kita masing-masing...
tinggal kitanya saja yg harus berusaha untuk menyelaminya.....
Temukan ilmu-Nya

Jadi teringat di dalam sebuah kisah pengembaraan
Socrates ke Oracle Delphi, "siapa manusia yang paling bijak".
Jawabannya "Gnothi seuthon" artinya kenalilah dirimu. Yah,
Tuhan sesuai dengan persangkaan hamba-Nya, dan nilai
seorang hamba juga dipengaruhi bagaimana dia mempersepsi
dirinya., makanya mari kita belajar mengenal dan
MENCINTAI diri sendiri :)