Suluk Wujil
Saudaraku renungkan dan ganti nama Wujil ini
Dengan namamu biar mengena dan terasa….
| SULUK WUJIL Salam Bahagia:) Nur Khabib |
| |
Meniti kedalam diri menemukan kilauan cahayA ILahi. Cahaya Di Atas Cahaya. Alloh menghendaki siapa saja yang Dia kehendaki. InsyaAlLoh jika Saudara menghendaki Cahaya-Nya, AlLoh pasti akan menemuimu segera amiin. BERLARILAH MENUJU ALLOH SWTa'ala. Cepat Kembalilah.
Saudaraku renungkan dan ganti nama Wujil ini
Dengan namamu biar mengena dan terasa….
| SULUK WUJIL Salam Bahagia:) Nur Khabib |
| |
Posted by
Nur Khabib
at
1:43 AM
0
comments
Makrifat kepada Allah
sebagai puncak tujuan hamba.
Marifat kepada Allah adalah
puncak keuntungan seorang hamba.
untuk marifat, maka jangan menghiraukan soal
amalmu yang sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan
bagimu, melainkan Dia akan memperkenalkan diri
kepadamu.Tidakkah kau ketahui bahwa marifat itu
semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu,
sedang amal perbuatanmu hadiah daripadamu,
maka dimanakah letak perbandingannya antara hadiah
dengan pemberian karunia Allah kepadamu?
Fitrah manusia mengenal Allah, baik dalam pengertian
awam(umum) maupun dalam arti khosh (khusus).
Yang dimaksud mengenal Allah dalam pengertian umum
ialah pengenalan iman kepada Allah, sebagaimana yang
dikaji dalam aqoidul iman yang sangat mendasar. Itulah
ilmu tauhid yang disebut sebagai inti agama. Atau pokok
dari segala yang pokok. Dengan kata lain, tauhid merupakan
keyakinan yang paling dasar untuk diajarkan kepada setiap
manusia sebelum lebih jauh menjalar pada aspek-aspek lain
dalam beragama.
Adapun yang dimaksud pengenalan secara khusus ialah
mengenal Allah dalam arti Makrifatulloh (melihat Allah)
dengan matahati. Maka ia melihat Tak ada perbuatan yang
bertebaran di alam ini , kecuali perbuatan Allah; Tak ada
nama yang melekat pada suatu apapun, melainkan
nama Allah; Tak ada sifat yang mewarnai diri, kecuali
sifat Allah; Tak ada Dzat yang meliputi makhluk, melainkan
Dzat Allah. Dengan tahapan Ilman Yaqin, Ainul Yaqin,
Haqqul Yaqin dan Isbatul Yaqin[1][1].
Anugrah Allah kepada hamba yang dikasihiNya merupakan
lensa marifat yang hakiki kepada-Nya. Sebab bagi orang yang
tak dapat anugerah Allah, ia mengenal Tuhan mereka menurut
versi angan khayal mereka. Seperti Firaun yang menuhankan
dirinya, Namrud menuhankan patung batu (arca) dan di zaman
kini banyak orang yang menuhankan sesuatu selain Allah,
seperti menuhankan computer, kekuatan alam dan teknologi.
Mereka itu sebagai contoh orang yang tidak mendapat
anugerah marifat dari Allah.
Jika Allah telah menunjukkan kepada hamba-Nya dengan
sebagian sebab-sebab sehingga ia menjadi orang yang marifat,
kemudian kepadanya dibukakan pintu kemarifatan yang tetap
(sakinah) sehingga ia mendapat ketenangan yang luar biasa.
Dan ini merupakan nikmat yang paling besar.
Hal ini pernah dialami oleh Nabi Ibrahim as dalam mengenal
Tuhannya: Dan demikian Kami perlihatkan kepada Ibrahim
tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan
di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu
termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi
gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: Inilah
Tuhanku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia
melihat bulan terbit dia berkata: Inilah Tuhanku. Tetapi setelah
bulan itu terbenam dia berkata: Sesungguhnya jika Tuhanku
tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah akau termasuk
orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat
matahari terbit, dia berkata: Inilah Tuhanku, ini yang lebih
besar, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:
Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang
kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku
kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan
cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan[2][2].
Ibrahim as. dapat anugerah marifah kepadaNya dengan
melalui perjalanan yang tentunya melelahkan, tetapi hal itu
telah diganti dengan rasa nikmat yang besar serta ketenangan
yang sangat luar biasa.
Kemudian yang terjadi pada perjalanan Nabi Musa as.
dalam mengenal Tuhannya:
Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia
melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya:
Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api,
mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya
kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.
Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil:
Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka
tanggalkanlah kedua terompahmu (hawa nafsu & pikiran liar)
sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.
Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini
adalah Allah , tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku[3][3].
Dan telah Kami janjikan kepada Musa sesudah berlalu waktu
tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu
dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang
telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata
Musa kepada saudaranya yaitu Harun: Gantikanlah aku dalam
(meminpin ) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu
mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.
Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada
waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman
kepadanya, berkatalah Musa: Ya Tuhanku, tampakkanlah
(diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.
(Berdoalah seperti doanya Musa ini)
Tuhan berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku
tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
gunung itu jadi hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan.
(keadaan Fana fillah).
Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:
Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan
aku orang yang pertama-tama beriman[4][4].
(Bukit & Gunung yang ada pada Diri manusia)
Liku liku perjalanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as
dalam mencari Tuhannya yang sebenarnya tampak penuh
dengan tantangan . Tetapi semua peristiwa yang dialaminya
bermuara pada alur bimbingan-Nya, mereka tidak bisa
mengelak dari alur itu. Maka itulah yang disebut Anugerah
Allah. Sehingga mereka berdua menemukan Ilahul Haq alias
Tuhan yang sesungguhnya, yaitu Allah.
Marifat adalah anugerah Allah yang didasari kasih Tuhan
kepada hamba-Nya. Adapun amal ibadah sebagai persembahan
hamba kepada Tuhannya. Dimisalkan; anugerah itu seperti
martabat seorang budak yang diangkat oleh raja menjadi
perdana menteri. Adapun amal ibadah seumpama upeti rakyat
kepada rajanya. Maka betapa sangat jauh perbedaan antara
keduanya.
Ketahuilah wahai para salikin! Sesungguhnya maksud dan
tujuan kebanyakan manusia memperbanyak amal kebaikan
itu adalah agar mereka dapat mendekatkan (Taqarrub)
dirinya kepada Allah dengan amal itu. Tetapi perlu disadari
bahwa itu tidak akan berubah maksudnya karena banyak atau
sedikitnya amal seorang hamba.
Dalam hal ini dapat dimisalkan seperti orang yang sedang
menderita sakit, disebabkan penyakit yang dideritanya maka
menjadi berkuranglah ibadahnya kepada Allah. Boleh jadi
penyakit yang dideritanya itu sebagai sebab dan isyarat
terbukanya pintu kemarifatan kepada Allah.
Oleh sebab itu jangan mempunyai perasaan banyaknya
amal ibadah yang tertinggal disebabkan sakit. Dengan sakit
yang dideritanya itu bisa merasa dekat dengan Allah.
Perasaan lapang dada, luas hatinya dan telah meninggalkan
berbagai kenikmatan dunia seraya diiringi oleh rasa cinta
negeri akhirat. Juga telah siap tuk meninggalkan dunia
nan fana sebelum kematian itu datang. Ini juga sebagai
pertanda orang yang telah mendapatkan Nur Ilahi atau
anugerah Allah. Kesadarannya bahwa Allah bisa berbuat
apa saja menurut kehendaknya, sebagai tanda kearifannya .
Salam Bahagia:)
Nur Khabib
Posted by
Nur Khabib
at
2:16 AM
0
comments
Rasulullah mengatakan,
Syariat adalah ucapanku,
thariqat adalah perbuatanku, dan
haqiqat adalah keadaanku.
Seseorang yang belum mampu sampai kepada haqiqat dapat
dikatakan sebagai orang-orang yang masih dalam keadaan lalai
(QS 16 : 108). Yaitu orang-orang yang masih tertutup hati,
pendengaran dan pandangan mereka. Meskipun segala sesuatu
atau segala informasi telah sampai kepada mereka; didengar,
dilihat dan dirasakan atau dibenarkan oleh hati mereka,
tetapi belum cukup untuk menghantarkan mereka untuk
memahami haqiqatnya, dengan demikian keadaan merekapun
belum sampai sebagaimana yang dikatakan Rasulullah,
haqiqat adalah keadaanku. Seseorang yang menenggelamkan
dirinya dalam upaya ketaatan dan berzikir kepada Allah atas
keimanannya kepada Allah, tidak akan sampai pada derajat ridho
dan diridhoi Allah selama dihatinya masih menyimpan
kesombongan sekecil apapun. Iblis adalah contoh paling jelas
dalam hal ini.
Para Nabi, Imam, dan Wali, adalah mereka yang telah
mencapai keadaan haqiqat. Mereka telah mengenal Allah
lewat penyaksian hati (kasyf ). Dan mereka tahu betul jalan
untuk dapat sampai kepada Allah, dan juga mengerti betul
penghalang serta tipu daya setan yang dapat menggagalkan
perjalanan untuk sampai kepada Allah. Itulah mengapa
mereka mengemban tugas sebagai pemberi petunjuk atau
pembimbing manusia kepada jalan keselamatan.
Dan manusia dalam keadaannya yang lalai, meraba dalam
kegelapan, dan rentan terhadap tipu daya setan, pasti
memerlukan pembimbing untuk menghantarkan mereka
menuju haqiqat. Tanpa seorang pembimbing, manusia
terperdaya oleh setan yang mengepungnya dari segala penjuru.
Karena memang pekerjaan setan adalah menyesatkan umat
manusia. Dan sudah menjadi kehendak Allah bahwa
manusia harus berupaya mencari jalan (wasilah) agar dapat
dekat kepada Allah.
Nabi mengatakan, Aku adalah
pintunya. Nabi Muhammad saw. adalah manusia sempurna
yang telah mencapai keadaan haqiqat. Beliau mengibaratkan
dirinya sebagai kota ilmu dan bagi umat manusia yang ingin
menuju dan masuk ke dalam kota ilmu tersebut dan ini
berarti ingin sampai kepada keadaan haqiqat dan membebaskan
diri dari kelalaiannya- tidak bisa tidak, harus masuk melalui
pintu masuk kota tersebut, dan dialah Ali bin Abi Thalib.
Sepeninggal Nabi, yang mewariskan Kitab yang dibawanya,
ucapan dan sunahnya, yang menghantarkan kaum muslimin
kepada keselamatan dan ridho Allah, umat manusia harus
mencari jalan selapis demi selapis, rangkaian pintu demi pintu
yang terhubung ke pintu masuk kota ilmu tersebut. Pintu masuk
tersebut adalah perwujudan nyata perintah Ilahi dalam sosok
seseorang yang telah sampai kepada keadaan haqiqat pula,
karena dialah sang pemberi petunjuk atau pembimbing
sebagaimana yang diisyaratkan di dalam al-Quran. Dan
inilah hakikat dari kalam Ilahi, Hai orang-orang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah ) yang
mendekatkan diri kepadaNya
Posted by
Nur Khabib
at
10:18 PM
0
comments
Mahabbatullah sebanding dengan seberapa jauh kitamengenal Allah. Imam Ghazali berpendapat bahwaterdapat 2 jenis orang yang jatuh cinta kepada Allahkarena sudah mengenal-Nya. Kecintaan mereka kepadaAllah sangat kokoh, tidak tergoyahkan dan tidak dapatdibandingkan. Orang-orang yang termasuk golonganAl-Aqwiyah ini, adalah para Nabi dan Rasul utusanAllah. Yang kedua, adalah Al- Dhua’fa. Orang-oranglemah yang baru jatuh cinta kepada Allah setelahberusaha untuk belajar mencintai-Nya. Jika mahabbatullah sebuah rumah, ada pintu untukmemasukinya, yaitu Rasulullah saw. Karena beliauadalah orang yang paling mencinta Allah mengenal danmengetahui tentang Allah. “A’rafankum billah ana” diantara kalian akulah orang yang paling tahu tentangAllah,” begitu kata Rasulullah saw. Mahabbatulah tidak mungkin diraih jika kita tidakmengetahui, dan tidak mengenal Allah. Untukmengenal-Nya Allah memberikan petunjuk-Nya:“Katakanlah! Hai Muhammad, jika kalian mencintai Allahmaka ikutlah aku, niscaya Allah akan mencintai kaliandan mengampuni dosa-dosa kalian.” ( QS.33:21) “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw. suriteladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yangmengharapkan rahmat Allah.” ( QS.33:21 ) Mencintai Rasulullah saw. melampaui pengertian biasa.Mencintai beliau pada hakikatnya mencintai risalahyang dibawanya. Meneladani amal-amal yang sangatdicintainya. Melaksanakan shalat malam dan menyayangifakir miskin adalah contoh amal yang sangat dicintaiRasulullah, banyak hadits yang menerangkan bahwakedua amal saleh itu merupakan jalan tercepat bagiseorang hamba untuk menemui Tuhannya. Barangsiapamenghendaki perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah iaberamal salih dan jangan menyekutukan-Nya dengansesuatu pun dalam beribadah kepada-Nya. (QS.18:11) Salam Bahagia:)
Nur Khabib
Posted by
Nur Khabib
at
1:05 AM
0
comments
1
Membaca Al-Qur’an dengan merenungkan dan memahami
kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya, sebagaimana
renungan seorang hamba yang hafal dan mampu menjelaskan
Al-Qur’an, agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak
Allah swt.
2
Taqorrub kepada Alloh swt. melalui ibadah-ibadah sunnah
setelah melakukan ibadah-ibadah fardhu itu, sesungguhnya
akan sampai pada derajat dicintai setelah memperoleh derajat
mencintai.
3
Melanggengkan Dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku,
melalui lisan, kalbu, amal dan prilaku. Maka pahala cintanya
menurut kadar derajatnya dalam dzikir tersebut.
4
Mahabbah kepada Alloh harus diprioritaskan dibandingkan
mahabbah terhadap diri Anda, ketika Anda diliputi hawa nafsu,
dan berupaya menuju mahabbah-Nya, walaupun jalan terjal
menghadang.
5
Penglihatan Qolbu itu terarah pada asma-asma dan sifat-
sifatNya, musyahadah dan ma’rifat kepada asma dan sifat-Nya,
serta berkelana di taman ma’rifat itu sendiri. barangsiapa
ma’rifat kepada asma-asma, sifat-sifat dan af’al-af’al-Nya,
tidak mustahil Alloh akan mencintainya.
6
Musyahadah terhadap kebajikan dan ihsan-Nya, keluhuran
dan nikmat-nikmat-Nya, baik nikmat batin maupun lahir, Maka,
sesungguhnya musyahadah itu mendorong untuk mencintai-Nya.
7
Adalah sangat menakjubkan : leburnya Qolbu sepenuhnya
senantiasa berada di sisi Alloh swt. Ungkapan tersebut tidak
sebagaimana arti tekstualnya, melainkan hanyalah penjelasan
tentang nama-nama dan isyarat-isyarat semata.
8
Khalwat bersama Alloh ketika Nuzul Ilahi, sebagai upaya munajat
kepada-Nya dan membaca kalam-Nya, disamping wukuf dengan
Qolbu dan beradab denagan adab ubudiyah, di hadapan
kekuasaan-Nya. kemudian semua itu diakhiri dengan istighfar
dan tobat.
9
Mengiikuti Majelis Muhibbin yang shiddiqin dan memetik
kebajikan buah kalam mereka, hal itu seperti memetik buah
yang sangat bagus. Dan anda janagan banyak bicara kecuali
jika Anda ingin memperjelas kebaikan kalam, serta Anda tahu
bahwa di dalamnya ada tambahan bekal bagi pelaku Anda
dan bermanfaat bagi orang lain.
10.
(Mahabbah kepada Alloh) harus menjauhi segala sebab
yang menghalangi Qolbu dan Alloh swt.
Salam Bahagia:)
Posted by
Nur Khabib
at
1:06 AM
0
comments
Dipandu oleh Ustadz M. Muhammad Rusli Malik
Sebelum membahas Ma’rifatullah, akan dibahas dulu
hubungan antara ma’rifatullah dan ma’rifatunnas. Dalam
pelajaran kita mengenai ma’rifatunnas, telah diketahui
bahwa inti dari manusia itu adalah akalnya. Yang jadi agen
pengganggu adalah hawa nafsunya, namun kita juga
memerlukan hawa, sehingga hawa ini tidak bisa dihilangkan.
Dan akal adalah satu-satunya instrumen yang bisa membawa
kita kepada Allah, mendekati Allah.
Yang dimaksud dengan mendekati Allah disini bukanlah dalam
pengertian fisik. Lalu bagaimana kita bisa menjadi dekat atau
menjadi jauh dari Allah? Ternyata dekat jauhnya kita dari Allah
tergantung kepada akal kita.
4. Cahaya Allah
3. CiptaanNya, yang memancar dari diriNya
2. Musyahadah, Akal tidak bisa lagi digunakan
1. Mujahadah, Akal digunakan
Allah adalah awal dan asal dari segala sesuatu di alam ini.
Allah menciptakan alam dan seisinya, serta menetapkan
hukum-hukum yang berlaku pada ciptaannya tersebut.
Dan sebagai Pencipta, tentu saja hukum-hukum tersebut
tidak berlaku bagi Allah. Misalnya, Allah menciptakan bumi,
dan menetapkan hukum gravitasi bagi bumi. Maka tentu
saja hukum gravitasi tersebut tidak berlaku bagiNya.
Empat perjalanan manusia
Ada empat perjalanan manusia, disebut Al-Asfar Al arbaah.
Al-asfar berasal dari kata safar, musafir, berjalan.
Al–arba’a berarti empat.
2. perjalanan dari Tuhan dalamTuhan (Musyahadah)
3. perjalanan dari Tuhan ke manusia
4. perjalanan dari manusia ke manusia
Mujahadah
Mujahadah adalah perjalanan pertama manusia.
Mujahadah berasal dari kata jahada, jahidu, jihad,
artinya berjuang, memaksakan diri. Mujahadah adalah
perjalanan yang penuh perjuangan untuk mengenal Allah,
menyadari kehadiran Allah. Dalam usaha kita untuk
‘naik keatas’(tidak secara fisik lho ya), ada hawa yang akan
selalu menarik kita ‘kebawah’, sehingga Alqur’an menyatakan
“kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-
rendahnya” (QS. 95 : 5). Bila berhasil, kita akan sampai
ke ‘atas’, sampai pada musyahadah.
Musyahadah
Kalau kita sampai ‘keatas’, itu dinamakan Musyahadah,
berasal dari kata syahadah, syahid, menyaksikan. Inilah
perjalanan dimana seseorang sudah menyatu dengan Allah,
perjalanan dari Tuhan dalam Tuhan. Seperti Al-Hallajj,
sehingga ia berkata, “Annal Haq” (akulah kebenaran).
Namun walaupun seseorang itu telah menyatu dengan Allah,
dia harus menggunakan bahasa manusia ketika berkomunikasi
dengan manusia. Seperti bila kita sudah memahami ilmu
matematika yang mendalam, kita harus menggunakan
bahasa yang sederhana ketika mengajarkan berhitung
kepada anak kecil. Seperti juga Nabi, dia berbicara dengan
bahasa kaumnya, dia tidak berbicara berdasarkan
keindahan rasa yang dia alami bersama Tuhan.
Sari :
Apakah yang dimaksud disini, Allah berarti tidak terjun
langsung dalam proses mendekati manusia? Sehingga Ia
misalnya, kemudian mengirim jibril, mengutus
Nabi Muhammad?
Ust. Rusli :
Sebelumnya harus difahami dulu bahwa yang kita maksud
disini bukanlah dekat dalam pengertian ruang dan waktu.
Jangan membayangkan Allah itu duduk di suatu tempat
tertinggi dan kemudian kita bergerak mendekatiNya.
Bukan begitu. Tetapi mendekat disini bermakna dekat
dalam pikiran. Tuhan itu ada dimana-mana, tetapi bila
kita tidak menyadari kehadiranNya, Dia akan terasa jauh.
Sama seperti bila dua orang duduk berdekatan, namun
tidak saling mengenal, tidak saling menyapa,
maka akan terasa jauh.
Perjalanan dari Tuhan ke manusia
Setelah manusia mencapai tahap musyahadah, ia harus
mampu ‘turun’ lagi, jangan terjebak, berhenti di musyahadah,
hingga mengalami suatu egoisme spiritual, merasakan
kenikmatan bersama Tuhan untuk dirinya sendiri. Padahal
kenikmatan tertinggi sebenarnya adalah ketika apa yang
dicapainya di perjalanan musyahadah-nya itu, bisa dibawa ‘turun’,
dibagi dengan manusia lain. Sama seperti seseorang yang
merasakan nikmatnya suatu makanan, kenikmatannya
akan terasa lebih tinggi lagi, bila ia bisa membagi makanannya
tersebut dengan orang lain. Orang seperti Al-Hallaj, tidak
membagi apa yang diperolehnya di musayahadah-nya
dengan bahasa manusia, sehingga kemudian sulit untuk
diterima manusia lain, terkesan tidak masuk akal. Seperti
juga kisah Syeh Siti Jenar, yang mengatakan, “akulah Allah”,
sehingga ia dihukum.
Perjalanan dari manusia ke manusia
Inilah perjalanan keempat, perjalanan manusia untuk
menegakkan keadilan, yang merupakan tugas kekhalifahan,
tugas Para nabi, para alim ulama dan tugas seluruh manusia,
sebagaimana pada ayat Alqur’an yang sering disitir oleh
para khotib sholat Jumat, QS. An-Nahl (16) ayat 90 :
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat
kebaikan dan menolong keluarga yang dekat dam melarang
dari mengerjakan yang keji dan yang munkar dan kedhaliman.
Ia menasehati kamu, supaya kamu ingat.”
Doni :
Perjalanan yang empat ini, bisa terpisah-pisah
atau harus berurutan?
Ust. Rusli :
Ada yang langsung masuk ke perjalanan ke empat, misalnya
teman-teman kita di LSM yang memperjuangkan keadilan.
Namun resikonya, apa yang dilakukan menjadi tidak ada nilai
ilahiahnya dan bisa jadi bernilai pamrih. Ikhlas, tanpa pamrih,
hanya akan dapat dicapai bila kita telah melalui perjalanan
sebelumnya. Mengapa? Karena orang-orang yang telah
mengalami nikmatnya bermusyahadah dengan tuhan akan
tabah dalam menghadapi setiap tantangan dan kesulitan
yang ada ketika berhubungan dengan manusia. Kesulitan itu
tak berarti bila dibandingkan dengan kenikmatan yang
didapatkan bersama Tuhan. Ia akan melakukan semua
perintah Tuhan dengan kecintaan. Seperti para nabi yang
dihujat, diusir oleh kaumnya.
Rizal :
Apa kriteria bahwa seseorang itu sudah mengenal Tuhan?
Jangan sampai terjadi, seseorang merasa sudah mengenal
Tuhan, padahal ternyata ia salah. Perasaan yang bagaimana
yang muncul ketika seseorang benar-benar merasakan
kehadiran Tuhan? Bagaimana dengan seseorang yang
tidak punya pengetahuan banyak tentang Tuhan, tetapi ia
dapat merasakan Tuhan? Dan bagaimana menentukan
dimana batasan akal itu dapat atau tidak dapat lagi digunakan?
Ust. Rusli :
Akal kita gunakan untuk dapat mengetahui, kemudian
mengenal Tuhan. Tanpa pengetahuan tentang Tuhan,
kita bisa tertipu oleh perasaan-perasaan kita, pikiran-pikiran
kita. Dikatakan bahwa perjalanan menuju Tuhan itu memang
banyak perompak-perompak yang dapat membuat kita
salah jalan. Seperti Lia Aminuddin yang kemudian mengangkat
dirinya menjadi orang suci (nabi?). dan rasa mengenal Tuhan
itu memang tidak bisa digambarkan, tidak bisa diceritakan,
hanya akan dimengerti oleh mereka yang merasakannya.
Sebagaimana kita tidak dapat menerangkan dengan tepat
bagaimana rasanya teh botol ini. Kalau seseorang ingin tahu,
suruhlah ia meminum teh botol tersebut, daripada mencoba
untuk menceritakannya. Demikianlah pula dengan spiritualitas itu,
tidak bisa digambarkan. Kalaupun dicoba untuk menggambarkan,
akan menggunakan bahasa manusia, yang sarat dengan
perumpamaan.
Intan :
Kalau begitu, bisa jadi apa yang dilakukan oleh Lia Aminuddin itu
bukan karena dia ingin mencari harta atau pengikut atau hal-hal
keduniawian lainnya, melainkan karena memang dia
merasa benar, dia meyakini apa yang dia pikirkan dan rasakan,
dan kemudian menyampaikan kepada orang lain, padahal
dia tertipu oleh perasaannya sendiri.
Ust. Rusli :
Bisa jadi begitu. Makanya kita harus menggunakan akal kita
untuk mengenal Allah. Coba lihat QS 62:2 yang menyebutkan
tugas rasulullah, yaitu mengajarkan kepada kaumnya
ayat-ayatNya (bukan AlQur’an maksudnya, tapi tanda-tanda
kebesaran Allah), lalu membersihkan diri mereka,
baru kemudian mengajarkan kitab suci (AlQur’an), dan terakhir,
mengajarkan hikmah. Puncak dari perjalanan manusia
adalah memperoleh hikmah.
Rizal :
Kalau seseorang sudah melaksanakan perintah agama,
misalnya seperti melaksanakan sholat, berpuasa, membayar
zakat, Haji dll, sebagai salah satu cara untuk mngenal Tuhan,
apakah ia masih perlu mengenal Tuhan secara khusus?
Ust. Rusli :
Dalam AlQur’an tidak disebutkan bahwa pelaksanaan ibadah
yg tadi disebutkan adalah sarana untuk mengenal dirinya.
Tuhan mengenalkan diriNya melalui nama-namaNya.
Allah mengimplementasikan kehendakNya melalui alam
dan kitab (Alqur’an). Karena alam dan alkitab sama-sama
bersumber dari diriNya, maka keduanya tidak mungkin
bertentangan, terjadi cek dan ricek antara keduanya.
Maka ini merupakan salah satu cara untuk menguji
kebenaran kitab suci, atau juga untuk menguji kebenaran
teori ilmu pengetahuan. Nah, sekarang, kita mengenal Allah,
melalui tafakur (berpikir) dan tazakkur (berzikir).
Tafakur tentang alam, zikir melalui kitab, melalui asma Allah.
Jadi pada hakekatnya, sebenarnya setelah kita
mengenal Tuhan, barulah kita sholat. Sholat adalah
kendaraan bagi kita untuk mi’raj kepada Allah. Ingatlah,
pada periode Mekkah (13 tahun) tidak ada perintah-perintah
mengenai fiqh, yang ada adalah mengenai iman, pengenalan
kepada Tuhan. Kita sekarang terbalik. Kita kenal pada fiqh dulu,
baru kemudian berusaha mengenal Allah.
Intan :
Well, jadi selama ini saya tidak mengenal Tuhan
yang saya sembah
Ust. Rusli :
Benar, kata orang arif, selama anda belum mengenal Tuhan
dengan benar, jangan-jangan yang Anda sembah adalah
Tuhan yang anda ciptakan dengan pikiran Anda sendiri.
Seperti bila kita membayangkan Tuhan ada didepan kita
ketika sholat. Apa benar Tuhan ada didepan kita? Padahal
Dia tak terikat dengan ruang. Dia ada dimana-mana. Kita
diliputi oleh Allah, Allah ada didalam diri kita, kita tak dapat
melepaskan diri dariNya.
Doni :
Mungkin bisa kita umpamakan seperti ikan dalam air.
Dalam tubuh ikan ada air, dan ikan ada di dalam air, dan
ikan tak bisa lepas dari air.
Ust. Rusli :
Perumpamaan yang bagus sekali.
Sari :
Ust. Kadang saya sholat di dalam mobil, ketika jalan macet,
apa itu tidak apa-apa? karena saya khawatir kehabisan
waktu sholat, dan daripada tidak berbuat apa-apa di dalam
mobil. Ternyata setelah saya sholat, jalanan menjadi lancar.
Ust. Rusli :
Tidak apa-apa. Itu adalah ritual yang harus kita lakukan.
Walaupun bagi mereka yang sudah mencapai musyahadah,
itu adalah gerakan-gerakan ritual yang harus mereka
lakukan ‘hanya’ karena mereka harus berbicara dengan
manusia. Padahal pada hakekatnya, perasaan mereka kepada
Tuhan sama, baik didalam ritual sholat ataupun tidak.
Mereka ‘sholat’ setiap saat. Tetapi kita harus berhati-hati
juga dalam hal menghubung-hubungkan suatu ritual yang
dilakukan dengan yang kemudian terjadi. Misalnya :
jalanan menjadi lancar karena saya tadi sholat.
Jayanti :
Kalau misalnya saya punya keinginan, kemudian saya berdoa,
dan kemudian keinginan saya itu tercapai, dan saya berpikir,
“ternyata Tuhan itu dekat, Dia mendengarkan saya”,
apakah itu juga termasuk menghubung-hubungkan
seperti yang Ustadz maksud?
Ust. Rusli :
Mengapa hanya menyadari kehadiran Tuhan ketika doa
kita terkabul? Mengapa kita menunggu hal yang demikian
untuk dapat membuat kesimpulan bahwa Tuhan itu dekat?
Apakah itu berarti Tuhan itu jauh, sebelumnya? Nah, maksud
saya, sebenarnya Tuhan itu pada dasarnya dekat, baik doa
kita dikabulkan ataupun tidak. Bukankah Dia telah
menyediakan semunya untuk kita? Oksigen yang kita hirup
setiap saat, misalnya. Apakah para nabi yang dihujat, dilempar
batu, diusir oleh kaumnya itu kemudian bisa kita artikan bahwa
Tuhan jauh dari mereka? Tuhan tidak menolong mereka?
Tidak mengabulkan doa mereka? Kesimpulannya, Tuhan itu
dekat atau tidak, bukan karena doa kita dikabulkan atau tidak.
Jayanti :
Bagaimana dengan orang-orang yang kita anggap sangat dekat
dengan Tuhan karena ibadahnya? Bolehkah kita minta
didoakan olehnya?
Ust. Rusli :
Boleh saja minta didoakan kepada orang saleh. Tetapi hati-hati juga,
jangan sampai kemudian terjadi komersialisasi kemampuan berdoa.
Jayanti :
Atau misalnya, bagaimana dengan kita yang suka menitipkan
doa pada orang yang pergi haji, karena disana banyak tempat
yang mustajab untuk berdoa?
Ust. Rusli :
Kalau semua doa kita ketika naik haji itu dikabulkan,
seharusnya umat islam menjadi umat yang paling berhasil
di seluruh dunia. Nyatanya tidak. Pernah dengar cerita tentang
seorang pemuda yang ingin punya anak? Dia lalu minta nasehat
pada seorang kyai. Kyai menyarankan dia untuk sholat malam
dan berdoa, dia laksanakan selama bertahun-tahun hal demikian,
tapi belum punya anak juga. Lalu sang kyai menyarankan dia
untuk naik haji, karena disana banyak tempat yang mustajab
untuk berdoa, dia laksanakan, dan belum juga punya anak.
Pak kyai menyarankan dia untuk naik haji lagi, karena doa
memang harus diulang. Maka dia naik haji tiga kali berturut-turut
dalam tiga tahun, tapi belum juga punya anak. Akhirnya kyai
bertanya apakah pemuda itu sudah menikah atau belum, dan
ia menjawab belum. Nah, bagaimana mau punya anak kalau
belum menikah? Ini hanyalah contoh bahwa doa itu tak berarti
bila tidak disertai dengan ikhtiar, terutama doa yang berkaitan
dengan hal-hal materiil.
Intan :
Bagaimana fungsi doa sebenarnya? Bukankah ada juga orang
yang berhasil mencapai keinginannya dengan usaha saja,
walao tanpa berdoa?
Ust. Rusli:
Ini akan kita bahas dalam kajian kita selanjutnya.
Akan ada sesi khusus dalam ma’rifatullah tentang doa.
Tetapi baiklah, mari kita bahas sebentar. Doa itu sangat penting.
Bagaimana peran atau fungsinya, itu tergantung kepada apa yang
kita inginkan. Bila yang kita inginkan adalah kedekatan dengan
Tuhan, bermusyahadah, maka doa menjadi tulang punggung,
dan usaha menjadi kulitnya saja. Tetapi bila yang kita inginkan
adalah hal-hal materiil, seperti kesuksesan dalam belajar, karir,
maka usaha menjadi tulang punggung terkabulnya keinginan itu,
dan doa menjadi kulitnya.
Rizal :
Doa bisa memberikan efek psikologis yang positif.
Ust. Rusli :
Benar, doa bisa memberi motivasi. Seperti yang saya tulis
di buku ‘Puasa’ saya, ada beberapa fungsi doa. Yang pertama,
doa itu berfungsi sebagai mision statement. Misalnya kita berdoa,
“ya Allah, izinkanlah saya memiliki mobil”, maka jelas, keinginan
kita adalah memiliki mobil. Yang kedua, doa memberi motivasi.
Segala sesuatu yang disampaikan kepada pihak lain, itu akan
menambah motivasi. Yang ketiga, doa akan menjaga
konsistensi misi, doa yang disampaikan terus menerus akan
membuat keinginan menjadi ketetapan. Yang keempat,
doa menjadi backup. Maksudnya, bila kita berhasil, kita tidak
menjadi sombong (semua ini karena Allah), dan kita tidak
menjadi depresi bila gagal (ada yang lebih baik menurut
Allah buat saya). Dan saya yakin, doa tidak akan merubah
sesuatu secara ‘simsalabim’. Berapa banyak orang yang
berdoa untuk keselamatan kaum muslimin di palestina
dan lain-lain, tapi tidak terjadi apa-apa. Bukankah Allah
sudah mengatakan, bahwa Allah tidak akan mengubah
nasib suatu kaum bila kaum tersebut tidak mengubah
dirinya sendiri.
Doni :
Pernah dengar perumpamaan dari Aa Gym, usaha
itu ibarat menanam benih, dan doa ibarat memberi pupuk.
Tanaman dapat tumbuh tanpa pupuk, tapi tentu tidak maksimal.
Ust. Rusli :
Benar, bisa diumpamakan demikian.
Intan :
Bagaimana dengan sikap menyalahkan Tuhan bila apa yang
kita inginkan, yang kita usahakan tidak tercapai?
Ust. Rusli :
Itu tergantung pada cara pandang seseorang terhadap Tuhan.
Segala sesuatu kebaikan yang kita dapatkan di dunia ini berasal
dari Tuhan, karena yang kita gunakan untuk mencapainya
adalah milik Tuhan, misalnya, otak yang kita pakai ini. Tapi kalau
ada kejelekan, itu karena kita sendiri, karena kita yang kurang
tepat dalam memanfaatkan potensi yang sudah diberikan.
Semoga bermanfaat Amiin.
Posted by
Nur Khabib
at
7:56 PM
0
comments
Hamzah Fansuri
Sidang `asyiq mencari Lawan
ke Bait al-Qudus pergi berjalan
kerjanya da'im membuangkan kawan
itulah si dia anak bangsawan
Ia sampai terlalu `asyiq
da'im, ia minum pada cawan Kholiq
mabuk dan gila ke Hadhirat Raziq
itulah thalib dakwahnya shodiq
Minuman itu terlalu masak habis
dapat diminum pada fardh yang khamis
jika hendak kau minum sekalian habis
wujud wahmi jangan kau labis
Hamzah Fansuri di dalam Makkah
mencari Tuhan di Bait al-Kakbah
dari Barus ke Qudus terlalu payah
akhirnya dapat di dalam rumah .
Segala puji bagi Allah... perjalanan yang ditempuh
Syekh Hamzah Fansuri untuk mencari Tuhan berakhir
dengan happy ending.
Mengembara bersusah payah mencari Tuhan kemana-
mana dari Barus sampai ke Mekkah akhirnya malah
ditemukan di dalam rumah, Di dalam dirinya sendiri terdapat
'Rumah Tuhan'. Baitulloh berada di qalbu orang yang mukmin
begitu dalam hadits.
Dalam Hadits Qudsi Allah berkata, " Tidak akan cukup
untuk-Ku bumi dan langit-Ku, tetapi yang cukup bagi-Ku
hanyalah hati hamba-Ku yang mukmin."
Jadi ternyata...untuk mencari Alloh, yaitu mencari SUMBER
Kebenaran dan kebahagiaan hidup yg hakiki tidak perlu
mencari jauh-jauh keluar diri.
Semuanya sudah tersedia di dalam diri kita masing-masing...
tinggal kitanya saja yg harus berusaha untuk menyelaminya.....
Temukan ilmu-Nya
Jadi teringat di dalam sebuah kisah pengembaraan
Socrates ke Oracle Delphi, "siapa manusia yang paling bijak".
Jawabannya "Gnothi seuthon" artinya kenalilah dirimu. Yah,
Tuhan sesuai dengan persangkaan hamba-Nya, dan nilai
seorang hamba juga dipengaruhi bagaimana dia mempersepsi
dirinya., makanya mari kita belajar mengenal dan
MENCINTAI diri sendiri :)
Posted by
Nur Khabib
at
3:05 AM
0
comments